Kamis, 11 Desember 2008
Foto-foto di Awal Desember
Ini foto-foto Vima sepanjang awal Desember.
Especially dedicated to Papa Thay in Rotterdam ....
Sabtu, 22 Maret 2008
Dua Kenalan Baru
Nah, di tempat penginapan, waktu jalan-jalan pagi, kami melihat ada seekor serangga besar (sekitar 2-3 cm) berwarna cokelat, berbadan keras, sedang merayap di tanah. Kuajak dia dan beberapa anak lain berjongkok mengamati dan kukenalkan pada mereka nama serangga itu: WANGWUNG. [Sayang, kami tidak bawa kamera dan hapeku yang kuno itu juga tidak berkamera. Aku pinjam hape ibuku untuk memotret, ternyata hasilnya tidak tajam. Jadi kupinjam foto dari arsip imaji google ini saja ya ... Kucari dengan kata kunci nama Latinnya: Oryctes rhinoceros.]
Selain wangwung, Vima juga baru tahu yang namanya burung MERAK. Rupanya memang berjodoh, baik di Magelang maupun Bandungan ternyata ada merak. Berhubung merak-merak itu ada di balik kerangkeng, Vima cuma bisa mengamati dari luar. Tapi di pertemuan kedua, Vima tidak butuh waktu lama untuk mengenali 'kawan' barunya ini. Ia pun lantas menuding-nuding, "Me'ak ... me'ak ..."
Selasa, 11 Maret 2008
Ini Bunglon, Nak!


Bunglon itu tampak lega, bukan? :)

Sabtu, 08 Maret 2008
CM di Youtube
Minggu, 24 Februari 2008
Bermain itu Penting!

Waktu bermain. Inilah keprihatinanku kalau dengar atau baca penuturan tentang jadwal harian anak-anak begitu mereka masuk sekolah. Sekolah dari pagi sampai siang, istirahat sebentar, sorenya les ini-itu, lantas malamnya kerjakan PR. Kapan mereka bisa bermain? Padahal sudah banyak hasil riset yang menegaskan bahwa bermain sangat penting untuk tumbuh kembang anak, baik aspek intelektual, kreativitas, maupun sosialnya. Salah satu artikel panjang tentang ini baru saja dimuat di New York Times. Katanya, bagi anak-anak bermain sama pentingnya dengan tidur.
Mengikuti anjuran Charlotte Mason, aku berusaha sebisa-bisanya mengekspos Vima dengan permainan di alam terbuka. Memberi kesempatan dia berkenalan dengan objek-objek alam: melihat, mendengar, menyentuh, meraba, membaui, menginjak, meremas, mengublek-ublek ... terserah dia deh, pokoknya. Sebisa mungkin aku tidak banyak turut campur tentang apa yang ingin ia kerjakan saat itu. Masterly inactivity, kata Charlotte. Biarkan anak membangun relasinya sendiri dengan segala sesuatu di dunia sekitarnya.

Sejauh ini aku lihat dampaknya positif. Daya pengamatan dan perhatian Vima sangat bagus. Lagipula, banyak bermain di alam terbuka membuat energi Vima tersalurkan, egonya pun secara natural teralihkan ke luar dirinya. Itu membantu perkembangan karakternya.
Sesuai asumsi CMers (yang dikokohkan oleh berbagai hasil riset) bahwa eksplorasi bebas sangat penting terutama pada enam tahun pertama, kebebasan bermain ini akan Vima nikmati tanpa pengurangan sedikit pun sampai ia kelak 6-7 tahun. Maka, dengan ini kuucapkan "selamat tinggal!" pada opsi PG dan TK.
Selasa, 07 Agustus 2007
Yang Mengambang, Yang Tenggelam
Vima hobi sekali main air. Ia belum bosan juga merasakan wujud air yang cair mengalir dan bisa memercik ke mana-mana. Buatku, kesenangannya mengeksplorasi air juga menjadi cara efektif untuk membuat dia menelan sarapan. Satu baskom penuh air untuk dicipak-cipuk, dan tanpa sadar nasi lenyap dari mulutnya! :-)
Nah, bagaimana kalau kita tambah kesenangan ini dengan “pengetahuan” tentang yang mengambang dan yang tenggelam? Kumasukkan serpihan daun, pothelan bunga, sendok-sendok plastik, juga dua butir batu ke dalam baskom air. Vima segera terserap dalam pengalaman baru. Mengubak-ubek daun yang terus mengambang, tak kunjung tenggelam. Cemplung-ambil-cemplung-ambil batu-batu yang langsung tenggelam dan tak mau mengambang.
Edukatif, murah, meriah, tapi perlu alat pel di penghujung “sekolah”, karena Vima lalu membalik baskom hingga semuanya tumpah! (c;

