Tampilkan postingan dengan label Nature Study. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nature Study. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Desember 2008

Foto-foto di Awal Desember

Awal Desember ini, Vima lumayan sering jalan-jalan. Mulai dari berenang dengan adik Aiko di Semawis, wisata agro di Kebun Ngabruk (Kendal), sampai ikut Mama menghadiri kopdar homeschooling di Salatiga.

Ini foto-foto Vima sepanjang awal Desember.
Especially dedicated to Papa Thay in Rotterdam ....

Your pictures and fotos in a slideshow on MySpace, eBay, Facebook or your website!view all pictures of this slideshow

Sabtu, 22 Maret 2008

Dua Kenalan Baru

Libur Paskah tahun ini, Vima pelesir bareng rombongan karyawan ibuku ke Magelang dan Bandungan. Naik kuda, nyemplung ke kali, treking menyusuri sungai dan mendaki bukit (Vima kugendong di sebagian besar perjalanan, tentunya) sambil memetiki bunga-bunga liar. Pokoknya puas banget deh menjelajah alam!


Nah, di tempat penginapan, waktu jalan-jalan pagi, kami melihat ada seekor serangga besar (sekitar 2-3 cm) berwarna cokelat, berbadan keras, sedang merayap di tanah. Kuajak dia dan beberapa anak lain berjongkok mengamati dan kukenalkan pada mereka nama serangga itu: WANGWUNG. [Sayang, kami tidak bawa kamera dan hapeku yang kuno itu juga tidak berkamera. Aku pinjam hape ibuku untuk memotret, ternyata hasilnya tidak tajam. Jadi kupinjam foto dari arsip imaji google ini saja ya ... Kucari dengan kata kunci nama Latinnya: Oryctes rhinoceros.]



Selain wangwung, Vima juga baru tahu yang namanya burung MERAK. Rupanya memang berjodoh, baik di Magelang maupun Bandungan ternyata ada merak. Berhubung merak-merak itu ada di balik kerangkeng, Vima cuma bisa mengamati dari luar. Tapi di pertemuan kedua, Vima tidak butuh waktu lama untuk mengenali 'kawan' barunya ini. Ia pun lantas menuding-nuding, "Me'ak ... me'ak ..."

Selasa, 11 Maret 2008

Ini Bunglon, Nak!

Aku suka sedih kalau melihat anak-anak yang dilarang ini-itu oleh ortu mereka, khususnya dalam hal menjelajah dan bereksplorasi di alam. Pernah suatu kali, Vima pergi ke Bukit Cinta, suatu taman rekreasi dengan danau yang indah di pinggir Rawa Pening. Seusai naik perahu berkeliling, Vima kuajak menyusuri pematang sawah kecil di tepi danau untuk mengamati capung-capung merah. Ada anak lain yang mengikuti kami, tetapi ayahnya buru-buru memanggil dan melarangnya - di situ kotor, begitu yang kudengar.

Vima sendiri sejak bayi tipe anak hati-hati. Bukan model sangat pemberani yang cak-cek memegang benda asing tanpa ragu-ragu. Tapi aku ingat pesan CM, "Asalkan ortu tidak mengajari anak untuk takut, mereka akan selalu bergairah dengan semua kehidupan di alam ini." Jadi, aku tetap mendorong Vima untuk lebih dekat mengamati berbagai makhluk hidup yang kami temui.

Beberapa bulan lalu, aku sudah mengenalkan Vima pada tokek. Tokek besar bertotol-totol biru itu ditangkap di rumah ibuku. Aku lantas membawanya pulang untuk Vima dalam sebuah perangkap tikus. Setelah Vima puas mengamati beberapa saat, tokek itu kulepas di dak jemuran atap rumah kami.

Hari Sabtu sore kemarin, ada lagi makhluk asing yang bertamu di rumah kami. Bunglon! Tampaknya ia kesasar entah dari mana, mendarat di depan kamar mandi. Aku berhasil menangkapnya dan lagi-lagi kukandangkan di perangkap tikus yang sama dengan si tokek dulu.

Minggu pagi, kami melepasnya di halaman depan rumah. (Terima kasih untuk Tante Keu yang bersusah payah memindah binatang yang dengan panik meloncat-loncat dan mencengkeram erat jeruji perangkap ketika ditarik keluar itu - dan memfotonya untuk Vima!)



Vima melambai-lambaikan tangan, "Da-dah .. buong!"


Bunglon itu tampak lega, bukan? :)








Sabtu, 08 Maret 2008

CM di Youtube

Malam ini iseng-iseng aku mampir ke youtube dan mengetikkan "charlotte mason" di kotak pencari. Lantas keluarlah di antaranya video berjudul Sunny Nature Study ini. Isinya kumpulan foto kegiatan penjelajahan alam anak-anak satu keluarga CMer yang dibubuhi kutipan-kutipan tulisan CM tentang manfaat nature study. Aku menikmatinya, jadi kubagikan di sini :)

Minggu, 24 Februari 2008

Bermain itu Penting!

Dibutuhkan segera: ruang dan waktu bermain untuk anak-anak kita.

Ruang bermain. Inilah yang terpikir olehku setiap pagi, siang, dan sore begitu Vima bangun atau bebas tugas (tugasnya? makan, mandi, dan minum susu! hehehe ...). Kampung kami termasuk yang tidak ramah anak karena tidak punya lapangan terbuka tempat anak-anak bisa sepakbola atau sekedar berlarian. Untuk memenuhi hasrat bermain Vima, aku rajin survei ke kampung-kampung lain - yang jauh maupun yang dekat - untuk mengintai keberadaan lapangan terbuka seperti itu. Lokasi favorit sejauh ini: padang rumput di Tembalang lengkap dengan berbagai bunga liar, belalang, kupu-kupu, juga sapi-sapi penduduk (kadang ada kambing juga).

[maaf, karena belum sempat menjepret sendiri, aku pinjam-pakai foto ini saja, soalnya sapi dan suasananya mirip dengan yang di Tembalang!]

clasohm.com/cows


Waktu bermain. Inilah keprihatinanku kalau dengar atau baca penuturan tentang jadwal harian anak-anak begitu mereka masuk sekolah. Sekolah dari pagi sampai siang, istirahat sebentar, sorenya les ini-itu, lantas malamnya kerjakan PR. Kapan mereka bisa bermain? Padahal sudah banyak hasil riset yang menegaskan bahwa bermain sangat penting untuk tumbuh kembang anak, baik aspek intelektual, kreativitas, maupun sosialnya. Salah satu artikel panjang tentang ini baru saja dimuat di New York Times. Katanya, bagi anak-anak bermain sama pentingnya dengan tidur.

Mengikuti anjuran Charlotte Mason, aku berusaha sebisa-bisanya mengekspos Vima dengan permainan di alam terbuka. Memberi kesempatan dia berkenalan dengan objek-objek alam: melihat, mendengar, menyentuh, meraba, membaui, menginjak, meremas, mengublek-ublek ... terserah dia deh, pokoknya. Sebisa mungkin aku tidak banyak turut campur tentang apa yang ingin ia kerjakan saat itu. Masterly inactivity, kata Charlotte. Biarkan anak membangun relasinya sendiri dengan segala sesuatu di dunia sekitarnya.



Sejauh ini aku lihat dampaknya positif. Daya pengamatan dan perhatian Vima sangat bagus. Lagipula, banyak bermain di alam terbuka membuat energi Vima tersalurkan, egonya pun secara natural teralihkan ke luar dirinya. Itu membantu perkembangan karakternya.

Sesuai asumsi CMers (yang dikokohkan oleh berbagai hasil riset) bahwa eksplorasi bebas sangat penting terutama pada enam tahun pertama, kebebasan bermain ini akan Vima nikmati tanpa pengurangan sedikit pun sampai ia kelak 6-7 tahun. Maka, dengan ini kuucapkan "selamat tinggal!" pada opsi PG dan TK.

Selasa, 07 Agustus 2007

Yang Mengambang, Yang Tenggelam

Anak-anak batita belajar lewat bermain. Mereka memahami lewat pengalaman. Pengetahuan masuk lewat panca indera. Dalam tahap dasar (grammar stage) pendidikan klasik, orang tua bertugas untuk mensuplai benak anak-anak dengan sebanyak mungkin cerita, gambar, dan pengalaman. Semua itu akan menjadi bekal mereka kelak untuk naik ke tahap berpikir yang lebih tinggi: logika dan retorika.

Vima hobi sekali main air. Ia belum bosan juga merasakan wujud air yang cair mengalir dan bisa memercik ke mana-mana. Buatku, kesenangannya mengeksplorasi air juga menjadi cara efektif untuk membuat dia menelan sarapan. Satu baskom penuh air untuk dicipak-cipuk, dan tanpa sadar nasi lenyap dari mulutnya! :-)

Nah, bagaimana kalau kita tambah kesenangan ini dengan “pengetahuan” tentang yang mengambang dan yang tenggelam? Kumasukkan serpihan daun, pothelan bunga, sendok-sendok plastik, juga dua butir batu ke dalam baskom air. Vima segera terserap dalam pengalaman baru. Mengubak-ubek daun yang terus mengambang, tak kunjung tenggelam. Cemplung-ambil-cemplung-ambil batu-batu yang langsung tenggelam dan tak mau mengambang.



Edukatif, murah, meriah, tapi perlu alat pel di penghujung “sekolah”, karena Vima lalu membalik baskom hingga semuanya tumpah! (c;