Minggu, 19 April 2009

Spongebob a la Vima

Sebetulnya Vima nggak tahu apa itu Spongebob ... wong nggak pernah nonton TV ;-p Tapi dia memperhatikan waktu kakak sepupunya, Irine, menggambar beberapa waktu lalu. Kak Irine bilang, "Ini gambar Spongebob!" Alhasil, dua hari kemudian di rumah, Vima coba meniru apa yang dia lihat dari gambar Kak Irine. Inilah hasilnya: dua rupa Spongebob a la Vima ...



Emang ada ya Spongebob Jabrik kayak yang di kanan itu ... ???!!!???!!!??? :-D

Lagu-lagu Terbaru Vima

Vima punya memori yang baik untuk lirik dan melodi lagu. Apalagi memang pagi, siang, sore dia selalu terekspos pada lagu-lagu anak, jadinya hampir semua lagu TK sudah dia kuasai. Dalam metode CM, eksposur inilah metode terbaik untuk mengajarkan sesuatu. Tidak perlu menyisihkan waktu formal untuk mengajarinya menyanyi, asal sering mendengar lagu itu, berulang-ulang diputarkan atau diajak menyanyi sambil melakukan kegiatan sehari-hari, tanpa sadar sudah banyak sekali lagu yang akan anak ingat.

Ingin lihat Vima menyanyi? Ini empat di antara sekian lagu favoritnya yang kurekam di hapeku.











Sahabat Depan Rumah

Walaupun relatif pemalu, Vima punya banyak teman di gang tempat rumah kami, maupun di gang-gang sebelah. Satu yang paling akrab dengannya bernama Amelia, cucu ibu penjual sayur seberang rumah kami.




Dua anak ini beda umur setahun persis, Amel lebih tua. Tanggal lahir mereka hanya selisih satu hari, tapi tinggi dan berat badan nyaris sama. Hanya saja, Amel lebih 'dewasa' dan lebih sering mengalah sama Vima yang suka keras kepala (genetik tuh, siapa dulu dong ibunya ... hehehe ...)

Kedua ortu Amel bekerja dari pagi sampai sore, jadinya bermain dengan Vima jadi hiburan juga buat Amel. Begitu mandi - kadang malah begitu bangun tidur - dia sudah mampir ke rumah. Bermain segala macam dengan Vima yang juga masih 'kopet' berpiama (NB: tradisinya, Vima baru mandi setelah sarapan).





Aku - yang merasa beruntung bisa punya lebih banyak waktu untuk mendampingi anakku ketimbang mamanya Amel - sering berusaha mengajak Amel ikut pergi ke tempat Vima juga pergi bermain. Ke perpustakaan daerah, ke kebun binatang mini Taman Lele di Krapyak, ke taman umum di kampung tetangga, memberi makan monyet di tembok dekat kuburan kampung kami, sampai ke kolam bola di mal ...

Kadang mereka berselisih, kadang mereka berebut mainan, kadang mereka 'galak-galakan', tapi lebih sering mereka bermain bareng dengan damai - petak umpet, pentas nyanyi, menggambar, melukis, bersandiwara dengan boneka bayi masing-masing ... Sungguh asyik mengamati semua dinamika 'sosialisasi' mereka berdua ini :-)

Rabu, 11 Februari 2009

Huh?


Aku amati ada suatu hal yang 'bermasalah' di Vima belakangan ini. Ia suka melontarkan kata "Huh?" saat aku atau si mbak bicara dengannya. Dengan "Huh?" itu, ia memasang wajah tak mengerti sehingga kami terpaksa harus mengulangi lagi apa yang kami katakan. Tapi lagi-lagi ia melontarkan "Huh?", meminta kami mengulang lagi untuk ketiga kalinya.


Wah .... ini tak bisa dibiarkan! (pikirku)

Seperti ditulis oleh Charlotte Mason, satu dari tiga kebiasaan baik yang masuk prioritas tertinggi dalam daftar kebiasaan baik yang perlu dilatih dalam diri anak adalah daya perhatian, habit of attention. Dalam buku Laying Down the Rails, Sonya Shafer meringkas definisinya menjadi "mengarahkan segenap kekuatan benak kepada apa yang sedang dihadapi; pikiran yang 'melihat' dengan konsentrasi penuh".

Mengapa habit of attention begitu penting? Sebab di dalam otak kita, berbagai macam gagasan muncul silih berganti seperti arus yang mengalir ke berbagai arah. Kalau kita tidak dapat mengendalikan arus gagasan itu, maka pikiran kita akan terlempar ke sana kemari, terombang-ambing dan segera kehilangan arah.

Charlotte Mason meminta para orangtua melatih habit of attention anak-anak mereka sejak dini, bahkan sejak bayi. "Seorang bayi, walaupun punya daya luar biasa untuk mengobservasi sesuatu, belum punya daya perhatian. Hanya satu menit, mainan yang tadinya dia sukai sudah dia jatuhkan dari jari-jari mungilnya, dan matanya mengembara ke hal-hal lain yang menyenangkan. Tapi bahkan pada tahap ini daya perhatian sudah bisa dilatih; mainan yang tadi dibuang kita ambil kembali, dan, dengan seruan 'Lihat!' serta suatu pertunjukan, bunda membuat mata bayinya terpaku kembali selama beberapa menit penuh - dan inilah pelajaran pertamanya dalam hal daya perhatian." (Vol. 1, hlm. 139-140)

Kembali ke Vima. "Huh?" tadi menjadi gejala berkembangnya kebiasaan yang bertentangan dengan habit of attention. Jadi, aku harus dengan segera, cermat, dan konsisten "menyiangi" kebiasaan buruk ini. Lantas inilah yang kulakukan: setiap kali aku berbicara dan Vima menjawab, "Huh?" aku diam saja pura-pura tidak dengar huh itu. Atau, jika aku merasa barangkali Vima memang belum menangkap maksudnya, aku akan mengulangi lagi kalimat itu dengan formulasi kata-kata yang berbeda. Dan jika setelah diulang ini ia masih berkata, "Huh?" aku tidak akan mengulangi untuk ketiga kalinya. (NB: si Mbak juga kuberitahu supaya menerapkan hal yang sama kalau Vima ber-"Huh?" kepadanya)

Setelah kuterapkan beberapa waktu, tampaknya mulai ada hasil. Kalau aku diam saja, tidak mengulangi kalimatku sekalipun ia bilang "Huh?" biasanya dia akan terdiam sejenak berpikir keras berusaha mengingat-ingat apa yang tadi aku katakan. Dan ternyata dia bisa ingat kalimat yang kukatakan itu! Juga kuperhatikan, "Huh?"-nya sekarang jadi lebih jarang.

Selasa, 13 Januari 2009

Balok Susun



Akhir tahun kemarin, aku belikan Vima seember kecil balok susun. Selang beberapa hari, tante Keke datang dari Jakarta juga membawakan oleh-oleh balok susun satu toples. Jadi Vima sekarang punya dua set balok susun yang dia suka mainkan bareng teman-temannya, anak-anak tetangga kami. Sepertinya Vima belum terlalu memikirkan bentuk apa yang sedang dia susun itu. Dia lebih menikmati eksplorasi menyambung-nyambungkan satu balok dengan balok yang lain. Semakin tinggi, semakin memuaskan baginya.




Ini dia satu lagi foto Vima nampang dengan balok susun kreasinya. Walaupun wajah masih kusut habis bangun tidur, cuek ajah ya.




Bikin Kalung

Tadinya pengen cari balok susun, tapi malah akhirnya beli perkakas prakarya manik-manik. Vima semula kesulitan, tapi karena karep mencoba terus lama-lama dia mulai mahir juga. Inilah proses Vima membikin kalung pertamanya ...

Your pictures and fotos in a slideshow on MySpace, eBay, Facebook or your website!view all pictures of this slideshow

Gambar Bentuk Pertama

Vima suka corat-coret. Acap kali sambil corat-coret dia akan bercerita tentang apa yang digambarnya. "Ini bebek, ini matanya, ini kupingnya, ini tangannya, ..." walaupun terus terang dari sudut pandang orang dewasa gambarnya itu tidak mbentuk sama sekali.

Tapi dua gambar yang ini beda. Meskipun masih plethat-plethot tapi bentuknya sudah jelas. Dan Vima pun sepertinya menyadari hal itu. Begitu selesai goras-gores, dia langsung bisa mengklaim sendiri gambar apa yang sudah dia buat.

"Ini ikan!" (sori, mau motret keliru pasang opsi kamera ... hehe ...)






"Ini orang!"


Kamis, 11 Desember 2008

Foto-foto di Awal Desember

Awal Desember ini, Vima lumayan sering jalan-jalan. Mulai dari berenang dengan adik Aiko di Semawis, wisata agro di Kebun Ngabruk (Kendal), sampai ikut Mama menghadiri kopdar homeschooling di Salatiga.

Ini foto-foto Vima sepanjang awal Desember.
Especially dedicated to Papa Thay in Rotterdam ....

Your pictures and fotos in a slideshow on MySpace, eBay, Facebook or your website!view all pictures of this slideshow

Empati


Ritual Vima setiap pagi antara lain adalah mengisikan kotak obat Mak. Ada delapan butir pil dari enam jenis obat yang Vima mesti kupas dan masukkan ke kotak. Selain melatih motorik halusnya (membuka grenjeng, menjumput obat, memasukkan ke kotak), dan pengenalan huruf (ada tiga kotak dengan kode P/pagi, S/siang, M/malam), yang paling penting justru Vima belajar ikut berpartisipasi merawat kesehatan Mak.


***

Suatu sore Mak mau keluar dari kamar, tertatih berjalan dengan tongkat gawangannya.

Vima: Mak, mau ke sana [ke arah dapur] atau ke sana [ke arah ruang makan]?

Mak: Mak mau ke meja makan, mau duduk.

Reaksi Vima? Langsung lari ke ruang makan dan menarikkan kursi untuk Mak (padahal kursinya berat sekali!!!).


***

Mata Mbak Ayu kelilipan.

Vima: Mata Mbak Ayu sakit ya?

Mbak Ayu: Iya, kelilipan.

Reaksi Vima? Langsung meniup mata Mbak Ayu yang sakit. (Padahal mulutnya sedang penuh makanan, jadi nyemburrr dehh ....)

Minggu, 30 November 2008

Vima Nyanyi

Celoteh Vima

Di rumah Oma, sedang makan sendiri di dekat kolam.
Banyak lalat beterbangan mendekat ingin nemplok di mangkok Vima.
Vima lapor pada Mama dengan bahasa campuran Indonesia-Inggris-Jawa:
"Ma, lalatnya coming lagi, to!"

***
Menjelang jam dua belas siang di suatu hari tengah November 2008.
Mbak Ayu: Vima mau makan sekarang atau nanti?
Vima: Nanti kalau Vima sudah besar!

***
Walaupun sudah paham kalau diajak ngomong pakai bahasa Inggris (kalimat-kalimat yang panjang pun dia ngerti), tapi Vima hampir selalu menanggapi percakapanku dengan bahasa Indonesia. Kecuali pada beberapa kesempatan:
Vima: Ma, drinking!
Mama: Bottle or glass?
Vima: Bottle!
Mama: Fill in with what?
Vima: With water.
Mama: (hiks, terharu ... kali ini anakku bisa njawab dengan bahasa Inggris yang bener, gak campur aduk ...)

***
Di kamar tidur Oma, mendengar suara pesawat terbang lewat.
Vima: Tuh, pesawat lewat ... syuuuung [memperagakan pesawat sedang terbang] ... terus buk, jatuh [memperagakan pesawat menghantam landasan] ... sampai di tempatnya Papa Thay.

***
Akhir November 2008. Ngobrol dengan Mak dan Mbak Ayu tentang adik Aiko, sepupu Vima yang baru datang dari Jakarta dan menginap di rumah Oma.
Mak: Adik Aiko sudah bisa jalan?
Vima: Bisa!
Mak: Jalannya kayak apa?
Vima: [memperagakan]
Mak: Adik Aiko gendut nggak?
Vima: Gendut! [lantas menoleh ke bonekanya, si Iting] Iting kok nggak gendut-gendut ya?
Ayu: Lha, Iting kan nggak pernah makan ...
Vima: Oh iya ...

Selasa, 22 April 2008

Komposer Term Ini

Bulan April-Juni, kurikulum musik klasik pilihan AO adalah karya-karya dua komponis Perancis: Symphony No. 3 (Organ Symphony), Danse Macabre, dan Le Carnaval des Animaux dari Saint-Saëns plus Symphonie Fantastique, Dance of the Sylphs, dan Rakoczy March (Damnation of Faust) dari Berlioz.

Kubaca dari wikipedia, Charles Camille Saint-Saëns (1835-1921) adalah tipikal jenius. Sudah bisa menyanyi dengan nada tepat di usia 2 tahun, baca-tulis di usia 3 tahun, membuat komposisi piano di usia 4 tahun, resital piano pertama di usia 5 tahun, dan menguasai bahasa Latin di usia 7 tahun! Lebih wow lagi, waktu mengadakan konser piano tunggal di usia 10 tahun, di penghujung acara dia menawarkan pada hadirin untuk memilih salah satu dari 32 sonata Beethoven sebagai lagu tambahan - dia sudah hafal semua partiturnya di luar kepala!!! Aku jadi turut bangga walau sekedar jadi pendengar karyanya saja ... hehehe ...

Kebalikan dari Saint-Saëns, Louis Hector Berlioz (1803-1869) sama sekali tidak jenius. Ia baru belajar main musik umur 12 tahun dan tidak pernah belajar piano, biangnya alat musik klasik. Tadinya ia mau sekolah kedokteran, tapi malah jatuh cinta pada musik, maka ia pun banting setir sekalipun tanpa restu orangtua. Banyak banget pengalaman pahit yang harus ia lewati sepanjang karirnya: mulai dari diusir dari perpustakaan musik karena dianggap bukan mahasiswa musik, ditolak oleh gadis pujaan, karya-karyanya dicampakkan, sampai ditinggalkan oleh tunangannya yang pilih menikah dengan usahawan kaya. Tapi melewati semua cobaan hidup itu, Berlioz yang tegar akhirnya betul-betul sukses baik sebagai komponis, konduktor, maupun penulis. Dia disebut sebagai salah satu dari The Trinity of Progress di dunia musik era Romantisisme abad ke-19. Dan ia juga punya banyak teman baik yang setia menungguinya kala ia menjelang ajal. His is really some character!

Senin, 21 April 2008

Jadi Anak Bilingual


Pada mulanya adalah posting dari Tamara di milis AO, bercerita tentang cara dia mengkondisikan anak-anaknya berdwibahasa (Inggris dan Jerman). Intinya, dia mencoba memakai bahasa Jerman sebisa-bisanya supaya mereka juga “tenggelam” ke dalam bahasa Jerman. Dalam perspektif CM, cara terbaik supaya anak mahir berbahasa asing memang lewat immersion (menjadikan bahasa asing sasaran sebagai sesuatu yang “hidup” lewat percakapan dan bacaan sehari-hari).

Aku serta-merta tertarik dengan topik ini. Terus terang, aku butuh Vima bisa berbahasa Inggris, supaya kelak dia bisa baca langsung buku-buku dalam kurikulum AO tanpa harus kuterjemahkan. Lantas aku pun mengajukan pertanyaan: apakah imersi juga cara yang cocok untuk anak sekecil Vima? Tidakkah berdwibahasa akan membuatnya bingung (karena sekarang Vima sudah mulai lancar berpikir dan bicara Bahasa Indonesia)?

Ternyata banyak juga anggota milis yang menanggapi pertanyaanku. Tamara bahkan menyempatkan diri kirim imel via japri. Mereka semua menyemangatiku supaya langsung mempraktekkan bilingualisme tanpa tunda waktu lagi. Mumpung Vima baru 20 bulan, bilang mereka. Lebih gampang menjadikan Vima bilingual sekarang ini daripada menunggu sampai dia nanti 3 atau 6 tahun. Apalagi, kesan mereka, bahasa Inggrisku *baik sekali* (ehm, ehm ... ;-p). “I wish my German is that fluent,” gitu komen Tamara, lantas dia ngomong, ”kalau aku jadi kamu, aku ga akan ragu untuk ber-Inggris-ria terus dengan Vima.”

Teman lain, Kathy, kasih saran begini: dari pengamatannya, keluarga-keluarga yang sukses berbilingual umumnya punya tempat dan waktu spesifik untuk tiap bahasa. Spanyol di rumah, Inggris di luar rumah, misalnya. Atau Belanda di rumah nenek, Inggris di sekolah, Perancis di rumah, Jerman tiap hari Rabu, dsb.

Terus ada lagi Lorraine yang menambahi advis supaya aku juga sekalian mengajarkan bahasa isyarat (sign language). Katanya, para ilmuwan mendapati bahwa bagian otak yang dipakai untuk bahasa isyarat dan bahasa lisan itu sama, jadi mengurangi tingkat kesulitan belajar anak. Hmmm ... aku sih percaya aja, soalnya temanku yang satu ini memang ngerti banget soal serba-serbi otak.

Alhasil, jadilah mulai Kamis lalu Vima resmi jadi anak bilingual. Prinsipnya aku yang akan selalu berbahasa Inggris dengan dia, baik di rumah maupun di luar rumah. Dengan catatan: kalau ada pihak ketiga yang asing (tetangga atau kerabat jauh), aku kembali berbahasa Indonesia. Soalnya, terus terang, males juga kalau dianggap snob ...

Oh ya, aku juga mengikuti saran Lorraine. Kuajari Vima beberapa bahasa isyarat versi Amerika (American Sign Language) secara informal sembari aku membacakan buku cerita untuknya. Kenapa ASL? Pertama, karena pemakainya lebih banyak dan mendunia. Kedua, karena ada situs yang ngajari ASL gratis lengkap dengan video tutorialnya :)

Rabu, 16 April 2008

Ada Kamu di Mataku

Anak-anak itu memang luar biasa, ya? Daya observasi mereka tajam sekali. Hal-hal kecil yang luput dari perhatian orang dewasa pun mereka perhatikan. Vima juga begitu. Dia sering sekali lebih dulu tahu tentang sesuatu di sekitarnya yang terlewat dari perhatian orang dewasa, mulai dari cicak lewat sampai butiran makanan ikan yang jatuh. (Aku tidak bisa memastikan apakah daya amatnya yang kuat itu juga terpupuk karena No TV policy kami, tapi sejauh ini aku merasa puas dengan perkembangan habit of attention Vima).

Hari Minggu yang lalu, daya amat Vima membuatnya menemukan sebuah fakta menarik. Dia dan aku sedang bermain-main di teras. Waktu itu sudah lewat tengah hari. Mentari bersinar di samping kepalaku yang sedang duduk bersandar di tembok.

Tiba-tiba Vima menatap wajahku dengan sangat berminat. Kepalanya meneleng ke kiri dan ke kanan seperti ingin memastikan sesuatu. Lantas ia bilang, "Lepas, lepas!" sambil menunjuk ke kacamataku. Aku masih belum paham apa maksudnya, tapi aku menurut saja. Kulepas kacamata dan ia lantas mengamati lagi wajahku sampai akhirnya ia berseru, "Mima ada! Mima ada!" Dengan menafsirkan gesturnya, baru deh aku dhong ternyata Vima melihat bayangan dirinya di dalam bola mataku!

Wuihhh ... terus terang aku merasa terperanjat campur kagum. Vima lagi-lagi melakukan self-discovery, menemukan sesuatu tanpa aku ajarkan (karena aku memang tak pernah terpikir untuk memberitahukan itu kepadanya).

Ingus Rasa Anggur

Pada fase kanak-kanak, khususnya pra-sekolah, CM bilang anak belajar lewat indera-inderanya. Dus, waktu suatu kali aku mau kasih tahu ke Vima kalau garam itu asin dan gula itu manis, aku biarkan dia mencicipi keduanya. Yah ... sedikit-sedikit saja. Dan ternyata dari pencerapan indera kecap itu Vima jadi punya kesan kuat tentang rasa asin dan rasa manis.

Yang lucu, minggu lalu kan dia pilek. Dia suka colek ingusnya sendiri lalu menjilatnya. Jijik sih, tapi bikin kami serumah ketawa. "Apa rasanya? Asin ya?" tanyaku. "Iya, asin!" jawabnya. Tapi kadang dia jawab sesukanya juga. Kali lain, waktu ditanya lagi, "Kok jilat ingus terus? Apa enak? Rasa apa sih?" Dia jawab dengan pe-de banget, "Rasa anggur!"

Sabtu, 22 Maret 2008

Dua Kenalan Baru

Libur Paskah tahun ini, Vima pelesir bareng rombongan karyawan ibuku ke Magelang dan Bandungan. Naik kuda, nyemplung ke kali, treking menyusuri sungai dan mendaki bukit (Vima kugendong di sebagian besar perjalanan, tentunya) sambil memetiki bunga-bunga liar. Pokoknya puas banget deh menjelajah alam!


Nah, di tempat penginapan, waktu jalan-jalan pagi, kami melihat ada seekor serangga besar (sekitar 2-3 cm) berwarna cokelat, berbadan keras, sedang merayap di tanah. Kuajak dia dan beberapa anak lain berjongkok mengamati dan kukenalkan pada mereka nama serangga itu: WANGWUNG. [Sayang, kami tidak bawa kamera dan hapeku yang kuno itu juga tidak berkamera. Aku pinjam hape ibuku untuk memotret, ternyata hasilnya tidak tajam. Jadi kupinjam foto dari arsip imaji google ini saja ya ... Kucari dengan kata kunci nama Latinnya: Oryctes rhinoceros.]



Selain wangwung, Vima juga baru tahu yang namanya burung MERAK. Rupanya memang berjodoh, baik di Magelang maupun Bandungan ternyata ada merak. Berhubung merak-merak itu ada di balik kerangkeng, Vima cuma bisa mengamati dari luar. Tapi di pertemuan kedua, Vima tidak butuh waktu lama untuk mengenali 'kawan' barunya ini. Ia pun lantas menuding-nuding, "Me'ak ... me'ak ..."

Rabu, 19 Maret 2008

Belajar Mandiri Ya, Vim ...

Pendidikan, kata Charlotte Mason, semestinya lebih dari sekedar menumpukkan sejumlah ilmu ke pikiran anak. Lebih dari itu, pendidikan haruslah mencegah secara terencana kemungkinan berkembangnya cacat dalam karakter anak. Inilah yang dimaksud CM dengan semboyan: Education is a discipline.

Dibesarkan dalam tipikal keluarga kelas menengah di Indonesia yang berpembantu, aku tidak ingin Vima mengulangi "cacat" karakterku. Semasa kecil, praktis aku selalu dilayani (ada mbak gitu loh ...) dan tidak pernah menggarap kerjaan rumah alias chores macam nyapu, ngepel, cuci piring, cuci baju, nyetrika, dsb. -- kecuali waktu si mbak mudik selama Lebaran. Baru setelah ngekos di luar kota saat kuliah, aku belajar seratus persen mandiri. Tapi sampai saat ini, harus kuakui, aku tetap saja kurang terampil soal chores ini, terutama dalam hal masak-memasak. Ini kekuranganku, dan aku mau Vima lebih baik daripada aku.

Maka, sedari dini aku upayakan supaya Vima mandiri. Apa saja yang bisa dia kerjakan, aku dorong dia melakukannya sendiri, sebisa dia. Mencopot baju, merapikan mainan, melepas sepatu lantas menatanya di tempat semula, mengelap meja makan kecilnya, dll. Aku juga mengajak dia mengambil bagian dalam tugas-tugas rumah tangga, sekecil apa pun. Misalnya: duduk menemani saat aku mencuci baju (asalkan dia tenang saja sudah cukup bagiku, karena itu berarti aku bisa konsentrasi ke cucian ;-p) atau ikut menurun-nurunkan bantal dan guling waktu aku mau bersihkan kasur setiap pagi.



Beberapa bulan terakhir ini, ia mulai terampil makan sendiri dan mulai bisa minum dari gelas. Seminggu belakangan ia malah bisa memegang gelas sendiri waktu minum. Siiiip ... lah!! :)
Nyem-nyem, gluk-gluk ...
nyem-nyem
[Buat yang mbatin kenapa meja makan Vima kok kotor banget, ini lho sebabnya: begitu acara makan dimulai dan dia didudukkan di kursi istimewanya itu, langsung dia bilang, "Tulis tulis!" Lantas corat-coret pastel pun terjadilah. Meja makan pun jadi serasa whiteboard. Harap maklum adanya ;-p ...]




Minggu, 16 Maret 2008

Ada Handel di Sini

Unsur penting lain dalam kurikulum Ambleside Online yang kuikuti adalah apresiasi musik klasik. Dipandu oleh agenda buatan "para senior", anak-anak dalam komunitas kami melakukan studi komposer bersama-sama (sementara para ortu berupaya mendukung lewat diskusi online). Triwulan Januari-Maret ini adalah giliran untuk mendengarkan karya-karya George Friederic Handel (1685-1759).

Porsi waktu terbesar (4 minggu penuh) dihabiskan untuk menikmati oratorio Handel yang berjudul Messiah. Diciptakan musim panas 1741 dan dikonserkan pertama kali di Dublin 13 April 1742, Messiah adalah karya Handel yang paling terkenal, khususnya dalam khasanah paduan suara Barat klasik. [Trims buat seorang teman di milis AO, aku berhasil mengunduh utuh Messiah, lengkap bersama teks liriknya dari awal sampai akhir. GRATISSS! :) Terus terang, walaupun dulu aku lama belajar musik klasik, baru kali ini aku mendengar Messiah yang lengkap, mulai dari Sinfonia sampai Haleluya.]

Maka, Handel pun hadir di sini, menemani Vima waktu makan, panjat-panjat, gambar-gambar ... (Heran, dia bisa juga goyang-goyang badan ngikutin suara tenoris, padahal teknik vokal dan musiknya sama sekali tidak easy listening gitu ... ;-p)

Rabu, 12 Maret 2008

Kisah Sukses Keluarga Bergthold

Jim dan Jane Bergthold menyekolahrumahkan keenam anak lelakinya: Caleb (16), Trent & Zachary (14), Matthew & Troy (13), dan Levi (9) dengan metode CM.

Hari-hari sekolah mereka dimulai dengan membaca Alkitab di pagi hari. Anak-anak itu betah belajar sampai malam. Pusat belajar mereka adalah perpustakaan di lantai bawah, yang penuh dengan novel-novel klasik. Mereka mengaku tidak menyesal tidak pernah mencicipi bangku sekolah formal. Toh, semua bahan pelajaran di sekolah juga mereka kuasai. Bahkan, kata Jane, setiap menjalani tes tahunan dari Departemen Pendidikan Oregon, anak-anaknya selalu mencetak skor melampaui tingkat usianya. Seringkali 2-3 tahun lebih maju dari seharusnya. Bahkan Caleb, yang sudah jadi mahasiswa Portland State University, selalu mendapat IPK 4.0

Seperti layaknya keluarga HS, The Bergtholds ini pun mengalami jatuh bangun pada awal memulai sekolah rumah mereka. "Saat menemukan Charlotte Mason di internet, hatiku melompat ... ternyata ada toh sistem seperti ini!" kenang Jane.

Anak-anak Bergthold jarang nonton TV (hihihi ... sama dong dengan Vima!). Dan - ini yang paling penting - mereka selalu berusaha melakukan yang terbaik bukan untuk bangga-banggaan, tapi karena pengabdian. "Ma, kami melakukan ini untukmu!" kata Levi. (Hiks ... mengharukan sekali ...)

Jane bilang, kurikulum CM adalah kunci menuju sukses. "Kurikulum ini sangat menekankan pembangunan karakter dan menanamkan kebiasaan baik lewat konsistensi saat anak-anak masih kecil - dan saya percaya itu sebabnya cowok-cowokku itu bisa bertanggung jawab mendidik diri sendiri sekarang ini."

Yup, Jane, kisah keluargamu membuat tekad hatiku lebih mantap lagi untuk menyongsong sukses bagi Vima ...




Selasa, 11 Maret 2008

Ini Bunglon, Nak!

Aku suka sedih kalau melihat anak-anak yang dilarang ini-itu oleh ortu mereka, khususnya dalam hal menjelajah dan bereksplorasi di alam. Pernah suatu kali, Vima pergi ke Bukit Cinta, suatu taman rekreasi dengan danau yang indah di pinggir Rawa Pening. Seusai naik perahu berkeliling, Vima kuajak menyusuri pematang sawah kecil di tepi danau untuk mengamati capung-capung merah. Ada anak lain yang mengikuti kami, tetapi ayahnya buru-buru memanggil dan melarangnya - di situ kotor, begitu yang kudengar.

Vima sendiri sejak bayi tipe anak hati-hati. Bukan model sangat pemberani yang cak-cek memegang benda asing tanpa ragu-ragu. Tapi aku ingat pesan CM, "Asalkan ortu tidak mengajari anak untuk takut, mereka akan selalu bergairah dengan semua kehidupan di alam ini." Jadi, aku tetap mendorong Vima untuk lebih dekat mengamati berbagai makhluk hidup yang kami temui.

Beberapa bulan lalu, aku sudah mengenalkan Vima pada tokek. Tokek besar bertotol-totol biru itu ditangkap di rumah ibuku. Aku lantas membawanya pulang untuk Vima dalam sebuah perangkap tikus. Setelah Vima puas mengamati beberapa saat, tokek itu kulepas di dak jemuran atap rumah kami.

Hari Sabtu sore kemarin, ada lagi makhluk asing yang bertamu di rumah kami. Bunglon! Tampaknya ia kesasar entah dari mana, mendarat di depan kamar mandi. Aku berhasil menangkapnya dan lagi-lagi kukandangkan di perangkap tikus yang sama dengan si tokek dulu.

Minggu pagi, kami melepasnya di halaman depan rumah. (Terima kasih untuk Tante Keu yang bersusah payah memindah binatang yang dengan panik meloncat-loncat dan mencengkeram erat jeruji perangkap ketika ditarik keluar itu - dan memfotonya untuk Vima!)



Vima melambai-lambaikan tangan, "Da-dah .. buong!"


Bunglon itu tampak lega, bukan? :)