Anak-anak batita belajar lewat bermain. Mereka memahami lewat pengalaman. Pengetahuan masuk lewat panca indera. Dalam tahap dasar (grammar stage) pendidikan klasik, orang tua bertugas untuk mensuplai benak anak-anak dengan sebanyak mungkin cerita, gambar, dan pengalaman. Semua itu akan menjadi bekal mereka kelak untuk naik ke tahap berpikir yang lebih tinggi: logika dan retorika.
Vima hobi sekali main air. Ia belum bosan juga merasakan wujud air yang cair mengalir dan bisa memercik ke mana-mana. Buatku, kesenangannya mengeksplorasi air juga menjadi cara efektif untuk membuat dia menelan sarapan. Satu baskom penuh air untuk dicipak-cipuk, dan tanpa sadar nasi lenyap dari mulutnya! :-)
Nah, bagaimana kalau kita tambah kesenangan ini dengan “pengetahuan” tentang yang mengambang dan yang tenggelam? Kumasukkan serpihan daun, pothelan bunga, sendok-sendok plastik, juga dua butir batu ke dalam baskom air. Vima segera terserap dalam pengalaman baru. Mengubak-ubek daun yang terus mengambang, tak kunjung tenggelam. Cemplung-ambil-cemplung-ambil batu-batu yang langsung tenggelam dan tak mau mengambang.
Edukatif, murah, meriah, tapi perlu alat pel di penghujung “sekolah”, karena Vima lalu membalik baskom hingga semuanya tumpah! (c;
Selasa, 07 Agustus 2007
Sabtu, 04 Agustus 2007
Terima kasih, Internet!
Betul-betul aku terbantu oleh internet dalam mewujudkan ide sekolah rumah! Dua hari berturut-turut (kemarin dan hari ini), aku dapat kesempatan menghadiri konferensi sekolah rumah online dari Escondido Tutorial Service (dimoderatori oleh Fritz Hinrichs, kampiun sekolah rumah klasik Amerika!). Aku bahkan bisa mendengar presentasi live dari Susan Wise Bauer, penulis The Well-Trained Mind! Pertanyaanku dalam chat-box dibaca dan dijawab olehnya! Wow! (Lihat, aku bahkan tak bisa menahan diriku untuk mengakhiri setiap kalimat dengan tanda seru! I feel so excited, that's why ...)
Malam ini, lewat milis diskusi The Well-Trained Mind yang aku ikuti, aku dapat lagi links yang penuh ide berguna untuk menyusun program Pra-TK dan TK Vima. Aku akan membagikan links itu lagi kepada siapa pun di antara pembaca yang memerlukannya. Lihat saja di daftar Homeschooling Resources blog ini.
Malam ini, lewat milis diskusi The Well-Trained Mind yang aku ikuti, aku dapat lagi links yang penuh ide berguna untuk menyusun program Pra-TK dan TK Vima. Aku akan membagikan links itu lagi kepada siapa pun di antara pembaca yang memerlukannya. Lihat saja di daftar Homeschooling Resources blog ini.
Jumat, 03 Agustus 2007
Arena Bermain V: Nyok-nyok
Ini resep cat untuk menggambar dengan jari (fingerpainting). Mirip lem kanji yang kubuat waktu SD dulu. Hanya Nyok-nyok ini lebih lembut, tidak terlalu lengket, dan memang nyaman sekali untuk diplenyok-plenyok dengan jari sekecil Vima. Bahannya sama dengan Klentrek, bedanya kali ini harus dimasak dulu sampai kental dan jernih, seperti ini:
Awalnya, Vima tampak agak ragu mengeksplorasi Nyok-nyok. Barangkali dia merasa aneh dengan teksturnya yang lebih kenyal. Tapi akhirnya ia menikmati juga! :-)
Awalnya, Vima tampak agak ragu mengeksplorasi Nyok-nyok. Barangkali dia merasa aneh dengan teksturnya yang lebih kenyal. Tapi akhirnya ia menikmati juga! :-)
Arena Bermain V: Klentrek
Resep ini aslinya bernama Feelie Goop. Tapi aku men-Jawa-kannya menjadi "klentrek" (memang wujudnya kalau dipegang klentrek-klentrek). Bahannya tepung maizena, air, dan pewarna makanan.
Vima dengan senang hati jadi sukarelawan pengubek-ubek si Klentrek ini selama sekitar setengah jam :-)
Rabu, 01 Agustus 2007
Air, Pasir, dan Balon Gas
Untuk membuat anak batita Anda terpukau, Anda tidak perlu membeli mainan-mainan mahal. Batita yang sehat dan bahagia akan tertarik kepada apa saja di sekelilingnya. Buat Vima: air, pasir, atau balon gas (juga benangnya) sudah membuatnya lebih dari betah untuk diam. Sungguh mempesona bagiku untuk melihat bagaimana perhatian seseorang bisa begitu terfokus untuk mempelajari sesuatu.
Seperti dibilang pioneer sekolah rumah Amerika, John Holt: seorang anak secara alamiah selalu ingin untuk ambil bagian dan terlibat dalam dunia. Jika Anda cukup mempercayainya, maka ia akan belajar tentang semua hal dengan gembira. Tanpa harus disuruh-suruh, tanpa harus diancam-ancam. Inilah sepasang mata yang selalu memandang segala hal dengan penuh minat. Inilah sepasang tangan dan sepasang kaki yang ingin menyentuh, mengotak-atik semua-muanya. Ia tidak takut kotor, tidak gampang jijik, dan nyaris tidak kenal bosan.
Aku percaya Vima sudah dibekali Tuhan bakat alamiah untuk belajar itu. Jadi, bukan Vima yang harus disesuaikan dengan sistem sekolah, tetapi sistem sekolah-lah yang harus disesuaikan dengan karakter Vima!
Aku percaya Vima sudah dibekali Tuhan bakat alamiah untuk belajar itu. Jadi, bukan Vima yang harus disesuaikan dengan sistem sekolah, tetapi sistem sekolah-lah yang harus disesuaikan dengan karakter Vima!
Ya, nggak, Vim?
Ya, ya, YAAAA ....
Rabu, 25 Juli 2007
Ke Toko Buku
Ingin anak Anda cepat membaca? Jessie Wise dan Susan Wise-Bauer memberi resep klasik mereka: buatlah ia nyaman dengan bahasa, buku, dan cetakan huruf. Sejak di buaian, bacakan buku atau putar books-on-tape. Berikan buku untuk dipegang dan dilihat-lihat. Baca sambil tunjuk buku-buku bergambar (picture books). Ketika bepergian, bacakan tulisan-tulisan besar yang ada di jalan. Tempelkan alfabet magnet di kulkas.
Minat Vima pada buku sudah muncul sejak enam atau tujuh bulan. Ia suka memegang-megang buku atau memain-mainkannya. Ketika jam ibadah pagi keluarga (sekitar 30 menit), ia bisa tenang hanya dengan menggenggam buku renungan (buku kecil, tanpa warna, dan tidak bergambar). Setelah kubelikan picture books yang lembarannya tebal, tampaknya ia semakin paham tentang konsep buku: bahwa isi buku itu tercetak dalam bentuk lembar-lembar dan untuk melihat semua isinya lembar-lembar itu harus dibuka. Sekarang tanpa disuruh ia berusaha sendiri membolak-balik halaman buku.
(Ini Vima di toko buku; ia senang sekali melihat ada buku di mana-mana dan berusaha melihat-lihat apa isinya ...)



Minat Vima pada buku sudah muncul sejak enam atau tujuh bulan. Ia suka memegang-megang buku atau memain-mainkannya. Ketika jam ibadah pagi keluarga (sekitar 30 menit), ia bisa tenang hanya dengan menggenggam buku renungan (buku kecil, tanpa warna, dan tidak bergambar). Setelah kubelikan picture books yang lembarannya tebal, tampaknya ia semakin paham tentang konsep buku: bahwa isi buku itu tercetak dalam bentuk lembar-lembar dan untuk melihat semua isinya lembar-lembar itu harus dibuka. Sekarang tanpa disuruh ia berusaha sendiri membolak-balik halaman buku.
(Ini Vima di toko buku; ia senang sekali melihat ada buku di mana-mana dan berusaha melihat-lihat apa isinya ...)



Aku membelikan beberapa jenis picture books untuk Vima. Jenis pertama, di tiap halaman hanya ada satu gambar benda utama plus tulisan nama benda itu, latarnya putih. Jenis kedua, di tiap halaman ada beberapa jenis benda dengan tulisan nama masing-masing, latarnya putih. Jenis ketiga, seluruh halaman penuh warna-warni dan ada tiga baris tulisan narasi. Setelah kuujicobakan, Vima tampak lebih konsentrasi pada buku jenis pertama. Ia seperti “paham” dan ikut menunjuk-nunjuk ketika nama benda itu dibacakan. Sementara, banyaknya benda dan warna di tiap halaman pada jenis kedua dan ketiga tampaknya membuat perhatiannya terdistraksi, membuat ia kurang “paham” apa isi dari buku itu.
Vima-ku Makin Murah Senyum
Pertanyaan yang sering dilontarkan kepada homeschooler adalah: jika tidak ke sekolah, bagaimana anak bisa bersosialisasi? Eh! Siapa bilang bersosialisasi hanya bisa dilakukan di sekolah? Sejak bayi, anak sudah belajar bersosialisasi. Iya lah ... tanpa bersosialisasi dengan ibu dan ayah atau siapa pun yang mengasuhnya, dia tidak akan bertahan hidup. Semakin besar, ia akan berkenalan dengan semakin banyak orang. Itulah sosialisasi yang sehat: bergaul dengan segala tipe orang, dari segala agama, ras, dan suku, strata ekonomi, serta rentang usia.
Aku senang melihat Vima semakin pandai bergaul dengan banyak orang. Memang dulu dia pendiam dan pemalu sehingga banyak orang bilang, Vima pelit senyum. Sifat bawaan? Kurasa bukan. Buktinya, setelah tambah besar, sering diajak pergi, dipertemukan dengan orang banyak, sekarang semua orang bilang Vima anak yang ramah, murah senyum serta tabik (dadah). Dan kalau sudah tersenyum ... amboi, manisnya! :-) Mau lihat?
Vima & PapaMemang dia masih agak takut dengan orang dewasa yang asing, apalagi laki-laki. Tapi jangan ditanya kalau dengan sesama anak kecil. Langsung ia dekati, ingin jawil-jawil dan ajak bermain.
Langganan:
Postingan (Atom)









