
Selasa, 04 Maret 2008
Buang Sampah pada Tempatnya

Minggu, 24 Februari 2008
Bermain itu Penting!

Waktu bermain. Inilah keprihatinanku kalau dengar atau baca penuturan tentang jadwal harian anak-anak begitu mereka masuk sekolah. Sekolah dari pagi sampai siang, istirahat sebentar, sorenya les ini-itu, lantas malamnya kerjakan PR. Kapan mereka bisa bermain? Padahal sudah banyak hasil riset yang menegaskan bahwa bermain sangat penting untuk tumbuh kembang anak, baik aspek intelektual, kreativitas, maupun sosialnya. Salah satu artikel panjang tentang ini baru saja dimuat di New York Times. Katanya, bagi anak-anak bermain sama pentingnya dengan tidur.
Mengikuti anjuran Charlotte Mason, aku berusaha sebisa-bisanya mengekspos Vima dengan permainan di alam terbuka. Memberi kesempatan dia berkenalan dengan objek-objek alam: melihat, mendengar, menyentuh, meraba, membaui, menginjak, meremas, mengublek-ublek ... terserah dia deh, pokoknya. Sebisa mungkin aku tidak banyak turut campur tentang apa yang ingin ia kerjakan saat itu. Masterly inactivity, kata Charlotte. Biarkan anak membangun relasinya sendiri dengan segala sesuatu di dunia sekitarnya.

Sejauh ini aku lihat dampaknya positif. Daya pengamatan dan perhatian Vima sangat bagus. Lagipula, banyak bermain di alam terbuka membuat energi Vima tersalurkan, egonya pun secara natural teralihkan ke luar dirinya. Itu membantu perkembangan karakternya.
Sesuai asumsi CMers (yang dikokohkan oleh berbagai hasil riset) bahwa eksplorasi bebas sangat penting terutama pada enam tahun pertama, kebebasan bermain ini akan Vima nikmati tanpa pengurangan sedikit pun sampai ia kelak 6-7 tahun. Maka, dengan ini kuucapkan "selamat tinggal!" pada opsi PG dan TK.
Selasa, 07 Agustus 2007
Yang Mengambang, Yang Tenggelam
Vima hobi sekali main air. Ia belum bosan juga merasakan wujud air yang cair mengalir dan bisa memercik ke mana-mana. Buatku, kesenangannya mengeksplorasi air juga menjadi cara efektif untuk membuat dia menelan sarapan. Satu baskom penuh air untuk dicipak-cipuk, dan tanpa sadar nasi lenyap dari mulutnya! :-)
Nah, bagaimana kalau kita tambah kesenangan ini dengan “pengetahuan” tentang yang mengambang dan yang tenggelam? Kumasukkan serpihan daun, pothelan bunga, sendok-sendok plastik, juga dua butir batu ke dalam baskom air. Vima segera terserap dalam pengalaman baru. Mengubak-ubek daun yang terus mengambang, tak kunjung tenggelam. Cemplung-ambil-cemplung-ambil batu-batu yang langsung tenggelam dan tak mau mengambang.
Edukatif, murah, meriah, tapi perlu alat pel di penghujung “sekolah”, karena Vima lalu membalik baskom hingga semuanya tumpah! (c;
Sabtu, 04 Agustus 2007
Terima kasih, Internet!
Malam ini, lewat milis diskusi The Well-Trained Mind yang aku ikuti, aku dapat lagi links yang penuh ide berguna untuk menyusun program Pra-TK dan TK Vima. Aku akan membagikan links itu lagi kepada siapa pun di antara pembaca yang memerlukannya. Lihat saja di daftar Homeschooling Resources blog ini.
Jumat, 03 Agustus 2007
Arena Bermain V: Nyok-nyok
Awalnya, Vima tampak agak ragu mengeksplorasi Nyok-nyok. Barangkali dia merasa aneh dengan teksturnya yang lebih kenyal. Tapi akhirnya ia menikmati juga! :-)
Arena Bermain V: Klentrek
Resep ini aslinya bernama Feelie Goop. Tapi aku men-Jawa-kannya menjadi "klentrek" (memang wujudnya kalau dipegang klentrek-klentrek). Bahannya tepung maizena, air, dan pewarna makanan.
Vima dengan senang hati jadi sukarelawan pengubek-ubek si Klentrek ini selama sekitar setengah jam :-)
Rabu, 01 Agustus 2007
Air, Pasir, dan Balon Gas
Aku percaya Vima sudah dibekali Tuhan bakat alamiah untuk belajar itu. Jadi, bukan Vima yang harus disesuaikan dengan sistem sekolah, tetapi sistem sekolah-lah yang harus disesuaikan dengan karakter Vima!
Ya, ya, YAAAA ....







