Selasa, 04 Maret 2008

Buang Sampah pada Tempatnya


Salah satu kebiasaan yang aku ingin tertanam pada diri Vima adalah membuang sampah pada tempatnya. Seperti petunjuk CM, aku selalu berusaha konsisten pada aturan ini, baik bagi diriku sendiri maupun bagi Vima. Jadi, praktis Vima selalu melakukannya. Aku tidak ingat ada satu kali pun dia mencoba membuang sampah di lantai atau di jalan.

Aku kadang bertanya, apakah kebiasaan membuang sampah itu benar-benar telah melekat pada karakternya, atau hanya dilakukan karena kuawasi saja?

Sore kemarin aku memperoleh jawaban. Kami sedang bermain dengan beberapa anak tetangga. Menjelang maghrib, kami pamit pulang. Saat itu ada salah seorang anak yang usianya satu bulan lebih muda dari Vima melemparkan krupuk yang dari tadi digenggamnya.

Vima tiba-tiba berhenti berjalan. Aku pun ikut terhenti dan memandanginya, ingin tahu reaksinya. Vima diam memandangi krupuk yang tergeletak di jalan itu. Instingku bicara dan aku bertanya padanya: "Buang sampah, Vim?" Dengan segera Vima memungut krupuk itu lantas, dengan bantuanku, ia membuangnya di tempat sampah.

Semua terjadi begitu cepat. Tiga orang tetangga yang ikut menyaksikan pun agak melongo, lantas berkomentar: "Aduh, pintarnya!"

Di hatiku tentu saja terbersit rasa bangga.

Tapi ada perasaan lain yang lebih daripada itu. Aku merasa SANGAT GEMBIRA. Satu kebiasaan baik telah tertanam, dengan bukti yang nyata.


Minggu, 24 Februari 2008

Bermain itu Penting!

Dibutuhkan segera: ruang dan waktu bermain untuk anak-anak kita.

Ruang bermain. Inilah yang terpikir olehku setiap pagi, siang, dan sore begitu Vima bangun atau bebas tugas (tugasnya? makan, mandi, dan minum susu! hehehe ...). Kampung kami termasuk yang tidak ramah anak karena tidak punya lapangan terbuka tempat anak-anak bisa sepakbola atau sekedar berlarian. Untuk memenuhi hasrat bermain Vima, aku rajin survei ke kampung-kampung lain - yang jauh maupun yang dekat - untuk mengintai keberadaan lapangan terbuka seperti itu. Lokasi favorit sejauh ini: padang rumput di Tembalang lengkap dengan berbagai bunga liar, belalang, kupu-kupu, juga sapi-sapi penduduk (kadang ada kambing juga).

[maaf, karena belum sempat menjepret sendiri, aku pinjam-pakai foto ini saja, soalnya sapi dan suasananya mirip dengan yang di Tembalang!]

clasohm.com/cows


Waktu bermain. Inilah keprihatinanku kalau dengar atau baca penuturan tentang jadwal harian anak-anak begitu mereka masuk sekolah. Sekolah dari pagi sampai siang, istirahat sebentar, sorenya les ini-itu, lantas malamnya kerjakan PR. Kapan mereka bisa bermain? Padahal sudah banyak hasil riset yang menegaskan bahwa bermain sangat penting untuk tumbuh kembang anak, baik aspek intelektual, kreativitas, maupun sosialnya. Salah satu artikel panjang tentang ini baru saja dimuat di New York Times. Katanya, bagi anak-anak bermain sama pentingnya dengan tidur.

Mengikuti anjuran Charlotte Mason, aku berusaha sebisa-bisanya mengekspos Vima dengan permainan di alam terbuka. Memberi kesempatan dia berkenalan dengan objek-objek alam: melihat, mendengar, menyentuh, meraba, membaui, menginjak, meremas, mengublek-ublek ... terserah dia deh, pokoknya. Sebisa mungkin aku tidak banyak turut campur tentang apa yang ingin ia kerjakan saat itu. Masterly inactivity, kata Charlotte. Biarkan anak membangun relasinya sendiri dengan segala sesuatu di dunia sekitarnya.



Sejauh ini aku lihat dampaknya positif. Daya pengamatan dan perhatian Vima sangat bagus. Lagipula, banyak bermain di alam terbuka membuat energi Vima tersalurkan, egonya pun secara natural teralihkan ke luar dirinya. Itu membantu perkembangan karakternya.

Sesuai asumsi CMers (yang dikokohkan oleh berbagai hasil riset) bahwa eksplorasi bebas sangat penting terutama pada enam tahun pertama, kebebasan bermain ini akan Vima nikmati tanpa pengurangan sedikit pun sampai ia kelak 6-7 tahun. Maka, dengan ini kuucapkan "selamat tinggal!" pada opsi PG dan TK.

Selasa, 07 Agustus 2007

Yang Mengambang, Yang Tenggelam

Anak-anak batita belajar lewat bermain. Mereka memahami lewat pengalaman. Pengetahuan masuk lewat panca indera. Dalam tahap dasar (grammar stage) pendidikan klasik, orang tua bertugas untuk mensuplai benak anak-anak dengan sebanyak mungkin cerita, gambar, dan pengalaman. Semua itu akan menjadi bekal mereka kelak untuk naik ke tahap berpikir yang lebih tinggi: logika dan retorika.

Vima hobi sekali main air. Ia belum bosan juga merasakan wujud air yang cair mengalir dan bisa memercik ke mana-mana. Buatku, kesenangannya mengeksplorasi air juga menjadi cara efektif untuk membuat dia menelan sarapan. Satu baskom penuh air untuk dicipak-cipuk, dan tanpa sadar nasi lenyap dari mulutnya! :-)

Nah, bagaimana kalau kita tambah kesenangan ini dengan “pengetahuan” tentang yang mengambang dan yang tenggelam? Kumasukkan serpihan daun, pothelan bunga, sendok-sendok plastik, juga dua butir batu ke dalam baskom air. Vima segera terserap dalam pengalaman baru. Mengubak-ubek daun yang terus mengambang, tak kunjung tenggelam. Cemplung-ambil-cemplung-ambil batu-batu yang langsung tenggelam dan tak mau mengambang.



Edukatif, murah, meriah, tapi perlu alat pel di penghujung “sekolah”, karena Vima lalu membalik baskom hingga semuanya tumpah! (c;

Sabtu, 04 Agustus 2007

Terima kasih, Internet!

Betul-betul aku terbantu oleh internet dalam mewujudkan ide sekolah rumah! Dua hari berturut-turut (kemarin dan hari ini), aku dapat kesempatan menghadiri konferensi sekolah rumah online dari Escondido Tutorial Service (dimoderatori oleh Fritz Hinrichs, kampiun sekolah rumah klasik Amerika!). Aku bahkan bisa mendengar presentasi live dari Susan Wise Bauer, penulis The Well-Trained Mind! Pertanyaanku dalam chat-box dibaca dan dijawab olehnya! Wow! (Lihat, aku bahkan tak bisa menahan diriku untuk mengakhiri setiap kalimat dengan tanda seru! I feel so excited, that's why ...)

Malam ini, lewat milis diskusi The Well-Trained Mind yang aku ikuti, aku dapat lagi links yang penuh ide berguna untuk menyusun program Pra-TK dan TK Vima. Aku akan membagikan links itu lagi kepada siapa pun di antara pembaca yang memerlukannya. Lihat saja di daftar Homeschooling Resources blog ini.

Jumat, 03 Agustus 2007

Arena Bermain V: Nyok-nyok

Ini resep cat untuk menggambar dengan jari (fingerpainting). Mirip lem kanji yang kubuat waktu SD dulu. Hanya Nyok-nyok ini lebih lembut, tidak terlalu lengket, dan memang nyaman sekali untuk diplenyok-plenyok dengan jari sekecil Vima. Bahannya sama dengan Klentrek, bedanya kali ini harus dimasak dulu sampai kental dan jernih, seperti ini:



Awalnya, Vima tampak agak ragu mengeksplorasi Nyok-nyok. Barangkali dia merasa aneh dengan teksturnya yang lebih kenyal. Tapi akhirnya ia menikmati juga! :-)

Arena Bermain V: Klentrek

Resep ini aslinya bernama Feelie Goop. Tapi aku men-Jawa-kannya menjadi "klentrek" (memang wujudnya kalau dipegang klentrek-klentrek). Bahannya tepung maizena, air, dan pewarna makanan.




Vima dengan senang hati jadi sukarelawan pengubek-ubek si Klentrek ini selama sekitar setengah jam :-)


Rabu, 01 Agustus 2007

Air, Pasir, dan Balon Gas

Untuk membuat anak batita Anda terpukau, Anda tidak perlu membeli mainan-mainan mahal. Batita yang sehat dan bahagia akan tertarik kepada apa saja di sekelilingnya. Buat Vima: air, pasir, atau balon gas (juga benangnya) sudah membuatnya lebih dari betah untuk diam. Sungguh mempesona bagiku untuk melihat bagaimana perhatian seseorang bisa begitu terfokus untuk mempelajari sesuatu.



Seperti dibilang pioneer sekolah rumah Amerika, John Holt: seorang anak secara alamiah selalu ingin untuk ambil bagian dan terlibat dalam dunia. Jika Anda cukup mempercayainya, maka ia akan belajar tentang semua hal dengan gembira. Tanpa harus disuruh-suruh, tanpa harus diancam-ancam. Inilah sepasang mata yang selalu memandang segala hal dengan penuh minat. Inilah sepasang tangan dan sepasang kaki yang ingin menyentuh, mengotak-atik semua-muanya. Ia tidak takut kotor, tidak gampang jijik, dan nyaris tidak kenal bosan.

Aku percaya Vima sudah dibekali Tuhan bakat alamiah untuk belajar itu. Jadi, bukan Vima yang harus disesuaikan dengan sistem sekolah, tetapi sistem sekolah-lah yang harus disesuaikan dengan karakter Vima!
Ya, nggak, Vim?


Ya, ya, YAAAA ....